Good morning Mr. Gary.
Here I am again. I hope you or your friends or fellows see this. I’ve read you
from ADAPTT. From many writings, I think you are used to face with hunters who
hunt just for fun. But here, I am used to face with hunters who hunt for a
living.; hunting for his or her family too. They hunt really for eating and
other needs. I meet fishermen who also do the same. They live near the sea and
they do fishing to eat and sell fishes.
Well, it’s not difficult
for me to choose vegetables and fruits only. But, what about the others? For
now, I just eat vegetables and fruits.The people I mentioned before are just examples. There
are many people who must conect with animal product for a living.
Would you like to answer
this stressing point? Thank you.
Hello
again, Mr. Gary. I am very pleased and grateful for your email. Though you
think I am naive even you don’t believe if I am a vegan. That’s ok. I become
vegan because of your speech. But I don’t become vegan for you. I become vegan
for the animals.
Well,
thank you very much for your concern that makes me concern about the animals. I
salute you for your commitment, your strict behaviour. Even I adore you. But
one thing I wanna tell you. We have to work together. The omnivora people do
this. They work together. Fishermen/fisherwomen catch fishes. Then others sell
them. Others cook. Lastly, a grandfather, a grandmother, an uncle, an aunt, a
father, a mother, and kids eat. Vegans must cooperate. If PETA doesn’t have
same behaviour with you, I guess you must cooperate with them until we have
same opinion and behaviour to animals. So, one day the vegan world will be
done.
Don’t
you count now? Well thank God, maybe Israel will be the first vegan country in
the world. But, what’s next? How many people become aware of animal’s right? But,
How many people are used to eat meat? I hope I am wrong. I really really, I
swear to GOD I am wrong. We keep trying no matter how long.
At
last, I still wanna ask your opinion. Sorry, I forgot to ask this last time.
What
do you think about people who must catch fishes for a living. What should they
do? What should the poor fishermen do for their families?
Hello
again, Mr. Gary. I am very pleased and grateful for your email. Though you
think I am naive even you don’t believe if I am a vegan. That’s ok. I become
vegan because of your speech. But I don’t become vegan for you. I become vegan
for the animals.
Well,
thank you very much for your concern that makes me concern about the animals. I
salute you for your commitment, your strict behaviour. Even I adore you. But
one thing I wanna tell you. We have to work together. The omnivora people do
this. They work together. Fishermen/fisherwomen catch fishes. Then others sell
them. Others cook. Lastly, a grandfather, a grandmother, an uncle, an aunt, a
father, a mother, and kids eat. Vegans must cooperate. If PETA doesn’t have
same behaviour with you, I guess you must cooperate with them until we have
same opinion and behaviour to animals. So, one day the vegan world will be
done.
Don’t
you count now? Well thank God, maybe Israel will be the first vegan country in
the world. But, what’s next? How many people become aware of animal’s right? But,
How many people are used to eat meat? I hope I am wrong. I really really, I
swear to GOD I am wrong. We keep trying no matter how long.
At
last, I still wanna ask your opinion. Sorry, I forgot to ask this last time.
What
do you think about people who must catch fishes for a living. What should they
do? What should the poor fishermen do for their families?
Hello, Gary Yourofsky. I agree
with you about being vegan. But I don’t agree 100%. You yourself said that I
didn’t need to agree with you 100%.
Well, firstly I wanna say
why I became vegan. About 4 months ago, I saw your video and your opinion. Then
I tried to eat only vegetables and fruits. Until now, I still do the same.
Now, secondly I wanna tell
my disagreement. What about people in Mongol. I heard that they have different
environment so that they cannot be vegan. I live in Indonesia; there are plenty
of fruits and vegetables. And, what about the Eskimos? Can they become vegan?
Mr. Yourofsky, do you know
Elizabet Lizy Velasquez? She has syndrome that her body cannot absorb fat.
Whatever she consumes it cannot make her fat. She is very very skiny. Maybe you
can search youtube and see her. Someone ever uploaded video about her and gave
a title: worst women ever in the world. She must eat every some hours but she
keeps skinny. Can she become vegan or must she become vegan?
And, at last, thirdly. I
guess animals in circus have their presents. They aren’t just hit or whipped. They
have foods, water and living. I think what the animals get in circus is the
same with what children get. If people wanna succeed they have to attempt,
learn, study. If people want to expose their abilities, they must be exposed.
If the animals in circus can expose their abilities, they must be exposed; and
it means they must sacrifice in some levels. Exercise, practice are what
animals must do. It means they must feel some pain, sacrifice.
Well, Mr. Gary, thank you for
what you have done. I don’t eat meat, I don’t use animal products now. Although
it’s hard for me to share veganism to others. Maybe next time you or your
friend or member can come to Indonesia and share your vegan principle.
Kelas yoga yang lengkap, rupanya
mengajarkan muridnya untuk bermeditasi. Salah satu yang penting dalam meditasi
ialah konsentrasi. Pada hari Minggu pagi, guru yoga lebih menunjukkan bagaimana
gerakan yoga yang benar. Itupun diberikan tidak secara intensif, para peserta
tidak dituntun satu demi satu. Jadi,
sebenarnya tidak ada bimbingan untuk meditasi.
Pada akhir latihan bersama, kami
sempat bincang-bincang dengan guru / instruktur. Salah satu teknik yang
diberikannya ialah seorang instruktur keliru jika minta muridnya untuk
mengosongkan pikiran ketika bermeditasi. Yang perlu dibuat, dalam tuntunannya,
ialah murid diajak untuk mengarahkan pikiran pada Tuhan. Jika muridnya Kristen,
dia meminta supaya muridnya mengarahkan pikiran kepada Yesus dan berkata dalam
ketenangan batin: “Yesus, Kaulah segalanya bagi saya; Kaulah ketenangan,
kebahagiaan . . . . . . .”
Tanpa disadari sang guru yoga (yang
bukan Kristen), telah menempatkan dirinya seperti muridnya
yang adalah orang Kristen. Tentu ini tidak masalah bagi sang guru/instruktur
yoga. Dia mengerti dan paham siapa Yesus bagi orang Kristen. Suatu pemahaman
yang kembali mengingatkan orang Kristen bahwa kita memiliki Yesus yang luar
biasa.
Bisa jadi, orang Kristen yang
“terkontaminasi”, merasa tidak cukup puas dengan Yesus. Saya maksudkan
kontaminasi di sini, ialah orang yang mendapatkan ukuran keluhuran, bela rasa,
seakan lebih dalam daripada yang Yesus lakukan dan ajarkan. Coba saja Anda
lihat dan rasakan: ada orang yang menjunjung tinggi hak-hak hewan hingga tidak
mau menyakiti, mengorbankan, apalagi menyantap hewan. Orang sedemikian, jika
dia Kristen, bisa jadi dia tidak akan puas dengan Yesus yang memang menjunjung
tinggi martabat manusia tapi tetap mengorbankan babi ketika mengusir setan,
atau tetap bersama-sama murid-murid yang adalah nelayan.
Bagaimana bisa seorang Kristen
tetap menjunjung tinggi kebebasan hewan sementara Yesus tidak berjuang
sedemikian dalam?
Saya pernah beranggapan, bahwa
Yesus sungguh luar biasa. Meskipun Dia dahulu memang melakukan hal-hal demi
keselamatan manusia, kini kita pun tetap bisa bersandar padaNya jika ingin
konsekuen menjadi vegan dan menyuarakan hak hewan. Sayangnya, anggapan ini
tidak cukup mengajak orang untuk sadar akan hak-hak hewan. Banyak orang
terlanjur berpikir bahwa korban hewan memang sudah sewajarnya. Orang-orang yang
sangat baik, penuh perhatian dsb, bahkan tidak bisa sampai pada penghargaan
atas hak-hak hewan. Menjunjung tinggi hak sesama manusia adalah suatu kesadaran
dan keharusan bagi mereka. Tapi untuk hak-hak hewan.. . ... . . ? Sorry la yau. .. .. . Jauh, jauh dah.
!$@!#$ Itu di luar konteks.
Usai kelas yoga di hari Minggu
pagi, saya berbincang-bincang dengan instruktur/guru. Saya awalnya hanya
menunjukkan gerakan sederhana yang saya peroleh dari Youtube. Dia mengerti
gerakan itu, dan tidak mencegah saya untuk melakukannya sendiri di rumah.
Berarti sah-sah saja jika sehari-hari saya melakukan olahraga yoga dengan
petunjuk video.
Saya tidak tahu bagaimana sampai
kami berbicara mengenai dunia vegan / vegetarian. Rupanya guru yoga kami sudah
menjalani hidup vegetarian selama 19 tahun. Sementara saya, baru kurang lebih 4
bulan menjalaninya. Saya sebenarnya ingin mencari tahu bagaiamana dia dan
kelompoknya menyebarkan pola hidup vegetarian. . . . . Rupanya, mereka tidak
begitu menyebarkan pola hidup ini. Mereka lebih menyerahkannya pada pribadi
masing-masing. Suatu prinsip yang tidak terlalu sama dengan prinsip saya.
Wajar juga jika prinsip mereka
berbeda. Apalagi, setelah dia membeberkan tempat-tempat yang tidak memungkinkan
untuk hidup vegetarian: Mongol, daerah kutub. Saya juga ingat dengan Elizabeth
Velasquez yang terlahir dengan sindrom langka. Tubuhya tidak bisa menyerap
lemak. Saya lupa, dalam jarak waktu sekian jam, dia harus makan setiap harinya.
Pastilah dia mengkonsumsi daging. Itupun tetap saja tidak misa menghindarkan
dirinya dari “kekurusan”.
Tapi, meski dia tergolong pasif
dalam menyebarkan ajaran vegetarian, dia yakin bahwa suatu waktu dunia akan
mengarah pada vegetarian. Ini juga yang memang saya rindukan. Tapi, ketika
menghitung-hitung statistik, berapa orang di dunia ini yang sama dengan saya dan
dia serta kelompoknya? Dari sekian banyak orang yang hidup di dunia ini,
berapakah yang sadar? Sepertinya kami hanyak setetes air tawar di tengah lautan
yang asin.
Jika orang tua Elizabeth Velasuez
dan nenek moyangnya hidup vegetarian bahkan vegan, apakah dia akan terhindar
dari sindrom yang langka?
Jika orang-orang Mongol dan daerah
kutub maupun mereka yang hidup di dekat laut sadar akan pola hidup vegetarian,
apakah tersedia cukup lahan dan sayuran/buah untuk mereka?
Semoga jika nantinya semua sadar akan
keluhuran hidup vegetarian dan menjunjung tinggi bela rasa atas hewan, segala
tantangan dan kekurangan akan tetap terpenuhi
Setiap berjalan sekian meter di
pusat kota, saya menjumpai rumah makan atau restaurant yang menyajikan
rupa-rupa makanan baik yang berbahan dasar hewan maupun tidak. Setiap kali saya
membaca tulisan ayam lalapan, mie
cakalang, sea food, soto, telor, nasi rawon, dsb, saya terpikir pada ayam,
ikan, sapi, dan sebagainya yang pastinya harus mengalami siksaan, ketakutan,
dsb demi memenuhi mulut, lidah dan perut manusia. Untung pikiran ini tidak
sampai pada perasaan saya. Saya memang tidak sakit ketika mereka semua harus
dipelihara, ditangkap, kemudian mengalai pembunuhan. Saya memang masih bisa
makan sayuran dan buah-buahan sendiri di tengah-tengah mereka yang melahap
segala makhluk dalam acara pesta atau syukuran, atau juga acara duka. Saya
tidak seperti Gary Yourosky yang mungkin memiliki rasa yang lebih mendalam dan
memiliki usaha yang lebih keras dalam wadah organisasi animal liberation.
Saya hanya bisa turut berpikir (dan
sebenarnya ingin berseru walau tetap saja diacuhkan) bahwa hewan-hewan ini
memiliki rasa yang sama dengan manusia ketika disakiti, hingga dibunuh.
Bukan hanya manusia yang bisa
merasa sakit dan takut. Hewan-hewan yang disantap, sebelumnya juga
merasakannya. Jika mereka merasakannya, mengapa manusia tetap saja
mengacuhkannya? Apakah makhluk hewan memang diciptakan untuk merasa takut dan
sakit untuk kemudian disantap dan dinikmati manusia? Apakah Sang Pencipta
memang bermaksud untuk rencana yang demikian?
Sementara itu, menurut perhitungan
dan argumentasi para pembela hak hewan, jika semua manusia berhenti
mengkonsumsi hewan dalam bentuk apa saja, masalah kelaparan bisa diatasi
demikian juga dengan pemanasan global.
Saya tidak tahu mengenai kebenaran
argumentasi dan perhitungan mereka. Saya tidak tahu pasti juga bagaimana kaitan
antara hewan – kelaparan – pemanasan global. Yang saya setujui: hewan punya
rasa sakit, hewan mengalami rasa yang sama dengan manusia. Jika demikian,
mengapa manusia hanya memperhatikan rasa antara sesama manusia? Mengapa manusia
hanya menyayangi hewan jika hewan itu satu rumah (kelinci peliharaan, anjing
peliharaan, kucing peliharaan, dsb).
Kurang lebih 3
bulan sebelum peristiwa tragis dialami oleh Angeline Megawe, Persephonee Norma Nefzger Banks
harus mengalami peristiwa yang miris.
Persephonee adalah
bocah perempuan berusia lima tahun, buah hati pasangan Chris dan Amee. Bersama
kedua orang tuanya, Persephonee tinggal di Broocklyn Center, Minnesota (salah
satu negara bagian Amerika Serikat).
Dalam
kesehariannya, Paresephonee dikenal sebagai bocah yang aktif, periang, dan
selalu menjadi penyemangat bagi kedua orang tuanya karena canda tawanya yang
menggemaskan.
Persephonee begitu
mencintai mainan dan video game. Dalam setiap pertemuan dengan banyak orang, ia
selalu memberikan kebaikan yang luar biasa serta senyum dan keceriaan yang
tidak sering ditemui pada banyak anak lain.
Sebagaimana
dikisahkan, kehidupan bahagia keluarga Banks tiba-tiba berubah. Kehidupan
mereka memasuki episode baru, sebuah epsode yang tak mudah. Suatu ketika
Persephonee mengeluh kepada ibunya, Amee, bahwa ia mengalami sesuatu yang aneh.
Menurut dia ada yang tak biasa dengan pernafasannya, sesuatu yang sering
membuat tubuhnya lemas.
Mendengar keluhan
Persephonee, Amee spontan memberikan steroid (jenis hormon yang berguna untuk
memulihkan kondisi tubuh). Amee berpikir, puterinya hanya menderita penyakit
asma pada saluran pernapasan.
Beberapa hari
setelah itu, ketika sedang bermain di rumah, Persephonee tiba-tiba jatuh
pingsan dan tak sadarkan diri. Chris dan Amee panik dengan kondisi putri
kesayangan mereka itu. Tanpa basa-basi, Persephonee langsung dibawa ke rumah
sakit untuk mendapatkan perawatan medis.
Sembari menunggu
hasil pemeriksaan medis, tanpa henti Chris dan Amee berdoa agar tidak terjadi
sesuatu yang buruk dengan putri kesayangan mereka. Meski demikian, kecemasan
dan kepanikan tetap saja menyelimuti Chris dan Amee.
Dokter yang
menangani Persephonee akhirnya keluar dari ruangan pemeriksaan dengan raut
wajah yang datar tanpa ekspresi. Belum sempat menerima pertanyaan tentang
kondisi Persephonee, dokter langsung mengajak Chris dan Amee ke ruangannya.
Dokter itu pun dengan nada terbata-bata memberitahukan penyakit yang diderita
Persephonne.
“Sesuai hasil
pemeriksaan, Persephonee menderita infeksi… streptococcus,” kata dokter dengan
dingin. Dokter itu melanjutkan, “Streptococcus adalah komplikasi radang
tenggorokan yang disebabkan bakteri langka dan mematikan. Tragisnya, hidup
pasien yang diketahui terserang streptococcus tidak akan lama lagi.”
Mendengar
penjelasan itu, degup jantung Chris dan Amee nyaris berhenti. Keduanya shock
dan tak sanggup mengungkapkan sepatah kata pun. Seisi ruangan sejenak membisu.
Nasib Persephonee kini ada dalam ancaman maut. Butir-butir air mata mulai
membasahi wajah Amee. Tak lama kemudian, tangis Amee pecah, sementara Chris tak
henti merangkul dan menguatkannya.
Beberapa jam
sebelum menghembuskan nafas terakhir, Persephonee yang masih berusia lima tahun
meninggalkan wasiat terakhir untuk kedua orang tuanya. Bukan pamit perpisahan
yang keluar dari bibir mungilnya. Bukan ucapan selamat tinggal yang
disampaikannya. Persephonee menghendaki organ tubuhnya hidup dalam diri orang
lain. Dengan ikhlas ia mendonorkan ginjalnya untuk dua pasien yang sudah enam
tahun menderita gagal ginjal.
“Bu, ikhlaskan aku
hidup dalam diri mereka meski mereka bukan aku yang lahir dari rahim ibu. Aku
ingin hidup, tapi mereka lebih membutuhkan aku untuk menyambung hidup.
Ikhlaskan aku Ibu, relakan aku Ayah,” ungkap Persephonee dengan nada haru di
hadapan kedua orang tuanya.
Tapi,
yang tentunya ingin saya ungkapkan di sini ialah kasih dari Chris dan Amee,
yang begitu besar untuk mereka. Demikian besar kasih mereka sehingga mereka pun
ingin Persephonee, sang putri, tetap hidup dalam diri orang lain. Mereka
merelakan sebagian organ tubuh Persephone, didonorkan kepada orang yang
membutuhkan.
Sesuatu yang
berbeda dialami oleh Angeline. Tubuhnya dikuburkan di belakang rumah. Sekitar 3
minggu jasadnya tersembunyi di tanah, dan sepertinya orang yang bertanggung
jawab atas kematiannya, ingin Angeline tidak pernah ditemukan. 3 minggu
terkubur dalam tanah, organ tubuh mana lagi yang masih bisa dibutuhkan oleh orang lain, selain para calon
dokter yang turut serta dalam otopsi jenazah Angeline.