Kamis, 18 Juni 2015

INDAHNYA KEJUJURAN

Selasa, 16 Juni 2015

Untuk pertama kali dalam New Episodes of My Life, saya pergi ke kebun. Pekerjaan di sini: menyiram tanaman (buah naga), membersihkan pekarangan dari rerumputan, dan mencangkul untuk menggemburkan kembali tanah. Ketika membersihkan lahan dari rerumputan, tanpa sengaja saya bersama ayah saya menemukan sebuah semangka. Di samping lahan kami, ada lahan lain yang ditanami semangka. Ayah saya yang sudah mengenal bapak, yang mengolah lahan di samping dan menanaminya dengan semangka, membertahukan kepadanya bahwa kami menemukan semangka yang kemungkinan berasal dari lahannya. Kami berpikir, jangan-jangan ada yang hendak mengambil semangka itu tanpa izin kemudian  meletakkannya di lahan kami untuk sementara. Siapa tahu? . . . . . .
Ayah saya kemudian memberitahu sang bapak bahwa kami menemukan semangkanya – mungkin – yang ada di lahan kami. Sang bapak begitu baik. Dia mengatakan supaya kami memakan saja semangka yang ditemukan. Tentu saja kami tidak langsung memakannya. Kami datang ke tempatnya, bercakap-cakap. . . .. .

Di akhir percakapan, dia pun kembali menambah lagi 1 semangka untuk kami. Bahkan, dia masih menambahkan bibit semangka. . . . . Wah, hitung-hitungan sederhana: kejujuran untuk 1 semangka, membawa 2 semangka dan bibitnya untuk kami. Indahnya kejujuran. . . . .

Dia yang Tergantung di Salib // Tuhan Suatu Waktu Diam

Minggu, 14 Juni 2015

Seorang bapak menyatakan bahwa dia memang banyak kali mendampingi orang-orang yang hendak menikah atau yang ada dalam permasalahan nikah. Tapi, mengenai panggilan, serahkanlah kepada yang tergantung di dinding (di salib).
Suatu waktu, Tuhan diam, dan manusia perlu menatapNya dalam keheningan untuk sadar akan kehendakNya à demikian pula sang bapak berujar.
Pikiran empiris dan hati yang rada-rada berontak, seakan membuat saya menjawab: Memang Tuhan selalu diam, dan kitalah manusia yang menafsirkan kehendakNya.
Suatu jawaban keras, bahkan kasar dari saya, tapi saya kini tersadar, bahwa Tuhan mungkin diam – tapi bukan berarti Dia tidak bertindak. Dalam banyak kesempatan saya berseru bahwa Tuhan bertindak. Dalam banyak hal saya menyatakan Tuhan melakukan karya bukan hanya yang tertulis dalam KS. Dalam dialog-dialog dengan kaum muslim, saya sering mencobai mereka dengan bertanya: mana karya Tuhan/Allah dalam hidup mereka. Kebanyakan tidak bersedia mengungkapkan peran Allah secara pribadi dalam hidup yang mereka jalani. Sebagai gantinya, mereka mengutip Quran dan Hadits. Hal yang sama juga terjadi ketika saya bertanya kepada orang Kristen. Jawaban mereka seringkali tak berbeda: hanya Alkitab dan Sejarah kekristenan yang membedakan jawaban orang muslim dan orang kristen. (Jika jawaban orang beragama mengenai pertanyaan saya hanya berupa kutipan-kutipan, wajar saja kalau orang-orang agnostik makin bertambah. Memang, secara statistik, perkembangan orang yang memutuskan menjadi agnostik masih di bawah perkembangan umat beriman. Tapi, ini tetap perlu dicermati)
Rupanya, pertanyaan yang sama kini saya berikan kepada diri saya sendiri; 

MENGAPA RELA MENJALANI HIDUP BARU . . .

Minggu, 14 Juni 2015

Malam ini, saya berjumpa dengan seorang bapak. Dia masih menganggap saya seperti orang yang pernah bertugas di gereja ini. Saya mengungkapkan yang sebenarnya meskipun tetap sulit juga untuk menyatakan sama sekali bahwa saya sudah menjadi orang yang “baru”.
Sebagai diri yang bukan lagi seperti “dulu”, saya memang bertanya: hal apa yang membuat saya memang sungguh-sungguh tidak menyesali menjadi diri sebagaimana kini. Dan, salah satu jawaban yang saya peroleh, sesuai dengan browsing saya di internet pada sore hari.

Persephonee Norma Nefzeger Banks. (gannett-cdn.com)
Gambar di atas adalah gadis cilik bernama Persephonee Norma Nefzeger Banks. Saya temukan dia ketika browsing di sore hari. Dia adalah gadis cilik berusia 5 tahun yang sebelum meninggal, mendonorkan beberapa bagian tubuhnya untuk orang yang membutuhkan. Masih ada beberapa orang yang melakukan hal yang sama, tapi intinya, saya ingin menjadi seperti mereka. Keinginan ini, memang sudah ada di benak saya bahkan ketika masih dalam kelompok...
Ketika menemukan orang-orang baru yang telah menjadi pendonor organ, saya kemudian menyadari bahwa alasan inilah juga (ada juga alasan-alasan lain yang lebih awal –baik internal maupun external) yang menyebabkan saya mau menempuh cara hidup yang “baru”.
Di awal keingian saya untuk menjadi pendonor organ, saya juga bersedia menjadi cadaver, jika saat itu tiba. Dan, yang sangat kental dalam diri saya, mungkin ini keinginan saya yang ingin menjadi unik/lain daripada yang lain (entahlah): saya tidak ingin dimasukkan di liang lahat! ***
Wow, suatu niat yang luar biasa. Tapi, menurut Sachiko Mawaddah Lestari, putri tunggal dari almarhum Fitri Mardjono, sesudah “bertugas” sebagai cadaver, ayahnya akan dimakamkan juga. Artinya, kita bisa menjadi pendonor organ sekaligus cadaver (jenazah kita dipakai untuk pelajaran anatomi calon dokter) tapi tetap kita akan dimasukkan ke liang lahat jika sudah tak dibutuhkan lagi.
Sayapun membuat kontak via internet, pihak dokter Gunther von Hagens

Dokter ini memiliki musem “manusia”. Jasad manusia dibentuknya dengan proses plastinasi sehingga memiliki rupa-rupa gerakan dan bentuk; ada yang seperti sedang bermain catur, sepak bola, berkuda, dsb.
He hehe...... Mungkin obsesi saya sudah keterlaluan. Sayangnya, dokter tersebut berada jauh dari sini. Keterlaluan mungkin niat mulia ini, keterlaluan juga niat saya untuk menjadi unik (extraordinary). Tapi, inilah salah satu alasan saya untuk kemudian menerima jalan hidup yang baru.

Jika saya masih dalam cara “lama”, saya akan terikat dengan aturan kelembagaan dan kepemimpinan yang ketat. Dalam kehidupan sekarang, ikatan itu mungkin lebih dekat dengan keluarga. Dan, semoga cita-cita ini bisa terlaksana kelak. Sambil tetap berkarya dalam anugerah kehidupan yang Tuhan percayakan.

HARGA PENGAKUAN

Sabtu, 13 Juni 2015

Kelompok Doa, persiapan untuk hari Selasa 16 Juni nanti. Sore, menjelang malam hari, di hadapan 7 orang yang lain saya mengakui siapa saya saat ini. Diri yang tak lagi seperti yang dulu. Tapi, seorang hamba yang tetap ingin bersedia melayani dalam cara yang baru, lebih khusus, lebih rinci.
Kelompok doa ini adalah keluarga saya selain yang ada di rumah. Mereka mengaku tetap menerima saya apa adanya dalam pelayanan dan kekeluargaan. Awalnya, bukanlah suatu yang ringan bagi saya untuk mengaku di hadapan mereka. Tapi, saya harus jujur dan ikhlas. Kata-kata peneguhan dari seorang yang biasa memimpin penyembahan, terdengar: “Tuhan tidak pernah salah”.

Ya, benar. Tuhan memang tidak pernah salah. 

Saya merasa tidak punya kekuatan “bargain”

Tak ada yang mencegah saya menjalani cara hidup yang baru. Tak ada yang menyesal ketika saya . .. . .  . Oh, ya. Mungkin ada beberapa. Tapi, itu sepertinya takkan lama untuk mereka.
Saya melihat yang telah saya lalui, ..... Sepertinya, tepatlah jika reaksi orang hanya seperti ini saja. Saya sepertinya tak punya nilai berarti. Kemudian saya berjumpa dengan orang yang senang membagi pikiran-pikiran positifnya.
Sebelumnya, saya sempat membaca tulisan mengenai seorang gadis yang memiliki sindrom langka. Betapapun banyak makanan yang dilahapnya, dia tetap saja kurus. Tubuhnya tak bisa menyerap lemak. Jika melihat tubuhnya, saya tidak percaya jika ia adalah salah seorang motivator yang sukses di Amerika.. . . . . Elizabeth Lizzie Velasques

https://www.youtube.com/watch?v=pLAA6nuSFn4
Saya menimba semangat positif dari dua orang itu. Satunya saya jumpai dan berkomunikasi secara langsung, satunya lagi saya jumpai lewat tulisan orang lain.

MENGAPA SAYA TIDAK MENJADI AGNOSTIK . . . . .

Kamis, 11 Juni 2015

Pernah saya berpikir, bisa-bisa menjadi seorang agnostik jika tujuan dan kerinduan tidak tercapai. Tapi, nyatanya saya kini tetap berseru pada Tuhan dalam cara yang ada dalam agama lahir saya.

MENGAPA SAYA TIDAK MENJADI AGNOSTIK . , , . .

Pernah saya berpikir, bisa-bisa menjadi seorang agnostik jika tujuan dan kerinduan tidak tercapai. Tapi, nyatanya saya kini tetap berseru pada Tuhan dalam cara yang ada dalam agama lahir saya.